SURVEI LSI, BAILEO SEMENTARA UNGGUL

AMBON-MALUKU. Pemilihan gubernur dan wakil gubernur Maluku 2018 kian menarik.

Dalam survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), pasangan calon Irjen Pol Murad Ismail dan Ir Barnabas Orno (BAILEO) berada di posisi teratas yakni 30 persen. Sementara posisi kedua diduduki pasangan Said Assagaff-Anderias Rentanubun (SANTUN) 27,3 persen dan diikuti pasangan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (HEBAT) 24,6 persen.

Murad Ismail-Barnabas Orno mampu mengalib  Said Assagaff-Andre Rentanubun dan Herman Koedoeboen-Abdullah Vanat.

Peluang menang dalam pilgub 2018 terbuka lebar bagi pasangan nomor urut 2 (BAILEO-red).

Pembicara LSI, Ikrama Masloman mengatakan, survei ini dilakukan tanggal 6 sampai 13 Juni 2018 terhadap 600 responden. Dimana responden dipilih, menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of eror sekitar 4,1 persen.

Survei yang dilakukan menggunakan anggaran pribadi dan dilengkapi dengan kualitatif riset (FDG/focus group discussion, media analisis, dan indepth interview).

Dimana lanjut ia, para pemilih yang menginginkan gubernur baru meningkat tajam, jika dibandingkan survei sebelumnya pada Mei 2017 lalu. Yakni pemilih menginginkan gubernur baru mencapai 32,3 persen. Kemudian Oktober 2017, meningkat sebesar 43,8 persen. Januari 2018 sedikit turun 0,3 persen. Dan baru kembali meningkat tajam pada periode April 2018 menjadi 49,5 persen. Bahkan mencapai angkat tertinggi pada periode Juni 2018 sebesar 58,9 persen.

“Hasil survei ini, calon petahana (santun-red) cukup dilemahkan lantaran menguatnya keinginan memilih gubernur baru sebanyak 58,9 persen. Sedangkan keinginan untuk memilih kembali petahana sebagai gubernur sekitar 27,3 persen dan hilangnya basis pemilih militan petahana (strong voters) yang hingga kemarin tersisa 19,5 persen. Ada tiga alasan kita gunakan tema mengapa Maluku diambang gubernur baru. Pertama, publik di Maluku mayoritas 68,8 persen inginkan gubernur baru. Kemudian mayoritas menilai karakter kepemimpinan petahana lemah sebesar 54,6 persen. Kemudian tingginya persepsi publik yang tidak menginginkan petahana menjabat kembali sebagai gubernur sebesar 48,2 persen. Dan sisanya belum memutuskan,” beber Ikrama, dalam konfrensi pers di Pasifik Hotel, Kamis (21/6).

Menurutnya, pemilih yang tidak menginginkan petahana menjabat kembali, yang basis suaranya sebesar 48,20% adalah suara yang terpolarisasi dari mereka yang mendukung pasangan BAILEO sebesar 43,30 persen. Dan 34,30 persen berasal dari pendukung HEBAT.

Bahkan terjadi kejutan terhadap peta politik. Dimana petahan yang sebelumnya memimpin, kini telah disalib oleh para penantang dari paslon BAILEO dan HEBAT.

“Periode Juni ini, pasangan BAILEO sudah unggul. Dengan selisih elektabilitas sudah diatas margin off error. Namun BAILEO belum aman. Karena selisih 3 paslon ini masih dibawah 10 persen. Dengan swing voters yang masih 20 persen. Artinya tidak menutup kemungkinan, masih dapat terjadi saling menyalib dukungan,” tutur dia.

Yang menarik kata Ikrama, tracking survei yang dilakukan, terjadi tren suara fantastik terhadap pasangan nomor urut 2 yakni BAILEO. Yakni Mei 2017, elektabilitas personal Murad Ismail dari angka 0,5 persen meningkat di survei Oktober 2017 menjadi 9,3 persen.

Kemudian Januari 2018 meningkat lagi menjadi 20,1 persen. April 2018 naik menjadi 24,4 persen. Dan naik terus hingga Juni 2018 mencapai 30 persen.

Akan tetapi menurutnya, ada 4 kondisi yang mampu merubah suara tersebut. Pertama suara pemilih yang mengambang masih sebesar 20 persen. Dimana beralihnya dukungan pemilih yang belum punya pilihan atau swing voters mendekati hari H. Kemudian ditentukan oleh meningkatnya golput pendukung.

Berikut ditentukan oleh negative campaign atau kampanye yang menyerang lawan dengan fakta-fakta yang melemahkan. Karena isu negatif yang massif terhadap seorang kandidat, dapat mengubah suara kandidat tersebut. Dan yang terakhir dalam ditentukan oleh intervensi dari pihak yang memiliki suara (oknum penyelenggara atau oknum penguasa). Yang bisa mengubah suara rill yang diperoleh masing-masing pasangan calon.

“Jadi 4 kondisi tadi dapat merubah kondisi suara saat ini. Bahkan dari penyebaran media sosial serta hasil debat juga sangat bisa merubah kondisi suara. Tetapi harapan publik di Maluku itu menginginkan agar kandidat bisa menerima kemenangan dan kekalahan secara lapang dada. Serta memberi ucapan selamat kepada pemenang. Dan 80.5 persen publik Maluku ingin setiap kandidat harus siap menerima kalah atau menang,” tutup ia. (AM-10)