Pendidikan

Dosen ITB Meyakini Pendidik Perlu Hadir di Ruang Digital, Namun Kepercayaan Tetap Kunci

Dosen ITB Imam Santoso mengajak pendidik hadir di ruang digital untuk memperluas ruang belajar, namun menekankan teknologi hanya alat dan kepercayaan tetap kunci dalam mendampingi peserta didik.

Pendidikan 2026-10-04 00:01:56 Jakartakita.com 👁 9 dilihat ♥ 0 💬 0

Dosen ITB Meyakini Pendidik Perlu Hadir di Ruang Digital, Namun Kepercayaan Tetap Kunci

Dosen ITB Imam Santoso mengajak pendidik hadir di ruang digital untuk memperluas ruang belajar, namun menekankan teknologi hanya alat dan kepercayaan tetap kunci dalam mendampingi peserta didik.

Dosen ITB Meyakini Pendidik Perlu Hadir di Ruang Digital, Namun Kepercayaan Tetap Kunci

Teknologi tidak menggantikan peran utama pendidik, yakni mendampingi dan menumbuhkan kepercayaan diri peserta didik. Pendapat itu dikatakan Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus kreator konten pendidikan Imam Santoso yang mendorong guru dan dosen memanfaatkan media sosial untuk memperluas ruang belajar.

Hal itu disampaikan Imam di Panggung Inspiring Educator "Menjaga Masa Depan, Untuk Pertiwi" dalam rangkaian Inspiring Educators 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta, Sabtu, 26 September 2026.

"Dulu, ketika belum ada media sosial, mungkin saya hanya bisa datang ke satu sekolah dan bertemu sepuluh anak. Sekarang, lewat media sosial, kita bisa mendidik dan memotivasi bukan hanya siswa di satu kelas, tetapi jutaan orang tanpa mengenal batas ruang dan waktu," terang Imam.

Menurut dia, pendidik perlu hadir di ruang digital karena di sanalah generasi muda banyak mencari informasi dan membangun cara pandang. Kalau generasi muda sekarang banyak menghabiskan waktunya di ruang digital, maka pendidik juga perlu hadir di sana. Bukan untuk menggantikan ruang kelas, tetapi untuk memperluas ruang belajar.

Meski begitu, Imam menilai teknologi hanyalah alat. Pendidik tetap dibutuhkan untuk memberi konteks, membangun karakter, dan membantu generasi muda menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

"Kadang mahasiswa itu tidak perlu seseorang yang menceritakan kehebatan mereka. Mereka perlu seseorang yang percaya kepada mereka, sehingga rasa percaya dirinya kembali dengan sendirinya," ungkapnya.

Foto: ParagonCorp
Imam mencontohkan pengalamannya mendampingi Bagus, mahasiswa ITB yang sempat terancam tidak lulus, sampai akhirnya berhasil menyelesaikan studi. Kisah yang sempat viral itu, menurut Imam, menunjukkan bahwa kepercayaan seorang pendidik bisa menjadi titik balik bagi peserta didik.

"Kadang mahasiswa itu tidak perlu seseorang yang menceritakan kehebatan mereka. Mereka perlu seseorang yang percaya kepada mereka, sehingga rasa percaya dirinya kembali dengan sendirinya," kata Imam.

Kalimat yang kerap ia sampaikan kepada mahasiswanya pun sederhana: "Kalau kamu enggak percaya pada dirimu sendiri, kali ini biarkan Mas Imam yang percaya padamu."

Imam juga menekankan bahwa kemajuan pendidikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta, secara berkelanjutan. Di luar kampus, Imam dikenal sebagai kreator konten pendidikan. Media sosial, katanya, membuat jangkauan seorang pendidik berlipat ganda.

"Dulu, ketika belum ada media sosial, mungkin saya hanya bisa datang ke satu sekolah dan bertemu sepuluh anak. Sekarang, melalui media sosial, kita bisa mendidik dan memotivasi bukan hanya siswa di satu kelas, tetapi jutaan orang tanpa mengenal batas ruang dan waktu," jelas Imam.

Menurutnya, pendidik perlu hadir di ruang digital karena di sanalah generasi muda banyak menghabiskan waktu. Bukan untuk menggantikan ruang kelas, tetapi untuk memperluas ruang belajar. Namun, ia menegaskan teknologi tetaplah alat. Konteks, karakter, dan kepercayaan diri peserta didik tetap tumbuh dari kehadiran manusia.

Foto: Jakartakita.com/Henry
Imam sendiri tumbuh berkat pendidik yang percaya padanya. Ia mengenang Pak Harsono, gurunya semasa sekolah di Jember, yang mengajar tiga generasi keluarganya, mulai dari neneknya, ibunya, hingga dirinya.

"Terima kasih Bapak Ibu Guru, terima kasih dosen saya juga," ucap Imam.

Imam menilai kemajuan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru dan dosen, tetapi butuh dukungan berkelanjutan dari pemerintah, komunitas, hingga sektor swasta. Ia mencontohkan rangkaian inisiatif ParagonCorp: Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru sejak 2017, Inspiring Lecturer Program (ILP) untuk dosen, dan Paragon Scholarship Program (PSP) untuk mahasiswa.

Bagi mahasiswa dengan keterbatasan biaya, dukungan seperti itu bisa menentukan. "Kita tahu ada anak-anak yang terpaksa mundur atau batal mendaftar kuliah karena keterbatasan biaya. Harapannya, dengan adanya PSP, adik-adik tidak perlu khawatir lagi untuk menempuh pendidikan tinggi," kata Imam.

Seperti Bagus yang kini sudah berkeluarga, dan seperti Imam yang pernah dipercaya gurunya, satu keputusan pendidik untuk percaya dapat menjadi titik balik hidup seseorang, lalu terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

"Yang ingin saya soroti dari Paragon adalah kepeduliannya yang luar biasa, mulai dari Inspiring Lecturer Program untuk dosen, Wardah Inspiring Teacher untuk guru, sampai Paragon Scholarship Program, yang tidak hanya memberi beasiswa tapi mahasiswanya juga didampingi," tutur Imam.

Inspiring Educators 2026 sekaligus menjadi graduation WIT dan ILP 2026 yang meluluskan 5.000 guru dan 1.000 dosen. Sejak 2017, kedua program telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik di 38 provinsi. (Henry)

#PendidikDigital #Kepercayaan #MediaSosial #TeknologiPendidikan #InspiringEducators #ITB #Pendidikan

#Inspiring Educators#itb#kepercayaan diri#media sosial#pendidik#pendidikan#ruang digital#Teknologi#teknologi pendidikan
💬Komentar0
DISKUSI BASUDARA

Komentar 0