Jakarta

EwasteRJ, DLH DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Inisiasi Penanganan Masalah Sampah Elektronik di Sekolah

EwasteRJ, DLH DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan inisiasi E-Waste School Movement untuk edukasi dan pengelolaan sampah elektronik di sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan.

Jakarta 2026-09-24 00:01:37 Jakartakita.com 👁 5 dilihat 0 💬 0

EwasteRJ, DLH DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Inisiasi Penanganan Masalah Sampah Elektronik di Sekolah

EwasteRJ, DLH DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan inisiasi E-Waste School Movement untuk edukasi dan pengelolaan sampah elektronik di sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan.

EwasteRJ, DLH DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan Inisiasi Penanganan Masalah Sampah Elektronik di Sekolah

Berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah sampah termasuk sampah atau limbah elektronik (ewaste) yang bisa menimbulkan dampak berbahaya. Untuk itu, PT Daur Ulang Sampah Elektronik (EwasteRJ) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta secara resmi meluncurkan E-Waste School Movement.

Gerakan edukasi dan aksi nyata ini dirancang untuk membangun pemahaman sekaligus menghadirkan akses langsung terhadap sistem pengumpulan serta daur ulang sampah elektronik yang bertanggung jawab bagi generasi muda.

Peluncuran perdana (kick-off) diselenggarakan pada Selasa, 22 September 2026, di SMAN 68 Jakarta dengan melibatkan sekitar 300 siswa.

Dari sekitar 9.000 sekolah di Jakarta, SMA ini dipilih sebagai titik implementasi pertama (starting point) dalam ekosistem Jakarta yang memiliki 481 Sekolah Adiwiyata yaitu sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan serta aktif melaksanakan upaya pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.

Seiring dengan semakin tingginya penggunaan teknologi, banyaknya perangkat yang rusak, tidak lagi digunakan, atau mencapai akhir masa pakainya (end-of-life) juga terus bertambah.

Foto: EwasteRJ
Berdasarkan data dari Global E-waste Monitor 2024 yang diterbitkan oleh ITU (International Telecommunication Union / Persatuan Telekomunikasi Internasional, badan khusus PBB untuk Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan UNITAR (United Nations Institute for Training and Research / Institut Pelatihan dan Riset PBB), dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton e-waste pada tahun 2022.

Namun, dari total keseluruhan tersebut, hanya 22,3% yang terdokumentasi dikumpulkan dan didaur ulang secara formal serta memenuhi standar environmentally sound. Tanpa intervensi dan perbaikan infrastruktur pengumpulan, banyaknya e-waste global diproyeksikan meroket hingga mencapai 82 juta ton pada tahun 2030.

Data dari Kemendikdasmen melalui Neraca Pendidikan Daerah mencatat bahwa Indonesia memiliki lebih dari 434.812 satuan pendidikan dengan lebih dari 53,3 juta peserta didik. Angka ini merepresentasikan potensi besar sekaligus ruang yang masif bagi penanaman literasi lingkungan sejak dini.

Inisiatif ini mendapatkan dukungan penuh melalui kolaborasi strategis tiga pilar. DLH DKI Jakarta bertindak sebagai pengarah kebijakan lingkungan dan pengampu ekosistem Adiwiyata, Dinas Pendidikan beserta Suku Dinas Pendidikan memastikan integrasi nilai-nilai pelestarian lingkungan di dalam ruang-ruang kelas dan ekosistem sekolah.

Sementara EwasteRJ bertindak sebagai mitra implementasi (implementation partner) dalam hal penyediaan edukasi, infrastruktur pengumpulan, hingga pemantauan daur ulang.

Menurut Elisabeth Tarigan, selaku Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data dan Informasi, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyampaikan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan komitmen memperkuat budaya lingkungan melalui ekosistem Sekolah Adiwiyata.

Foto: Jakartakita.com/Henry
“Kehadiran E-Waste School Movement di lingkungan sekolah tidak hanya meningkatkan kesadaran siswa terhadap pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan solusi infrastruktur pengumpulan yang nyata dan terstruktur bagi generasi muda di Jakarta,” terangnya di SMAN 68 Jakarta, Selasa, 22 September 2026.

Dukungan dari instansi pendidikan juga menjadi landasan penting agar gerakan ini berdampak jangka panjang dalam pembentukan karakter serta kesadaran ekologis peserta didik. Bakwan Ferizan Ginting selaku Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Pusat menambahkan karena dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

“Kami menyambut baik inisiatif ini karena membiasakan peserta didik untuk memahami siklus hidup perangkat teknologi, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas digital sekaligus peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup,” kata pria yang biasa disapa pak Ginting ini.

Melalui E-Waste School Movement, EwasteRJ menghadirkan solusi konkret yang terintegrasi lewat edukasi siklus hidup perangkat (lifecycle), identifikasi jenis sampah elektronik, hingga penempatan titik pengumpulan (dropbox) khusus di lingkungan sekolah agar siswa memiliki jalur pembuangan yang aman.

“Peran EwasteRJ bukan hanya mengumpulkan dan mendaur ulang sampah elektronik. Kami ingin membangun infrastruktur sosial agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami e-waste dan terbiasa membuang sampah elektronik melalui jalur yang benar.

Foto: Jakartakita.com/Henry
Edukasi menjadi pondasinya, karena perubahan yang kami ingin bangun bukan untuk satu hari atau satu kegiatan, tetapi menjadi kebiasaan dalam jangka panjang,” jelas Rafa Jafar, pendiri EwasteRJ.

Para siswa SMAN 68 yang mengikuti jalannya acara menyimak penjelasan dari para pembicara dengan semangat dan antusias di lapangan sekolah. Mereka juga mengajukan pertanyaan seputar ewaste dan mengikuti games berhadiah yang dipandu EwasteRJ.

Usai peluncuran perdana ini, EwasteRJ akan memonitor penggunaan dropbox, jenis serta volume barang yang terkumpul, tingkat pemilahan barang, kebutuhan penjemputan (pickup), serta menampung masukan operasional dari pihak sekolah guna menyempurnakan model operasional sebelum diperluas secara bertahap.

Sebagai kota awal, Jakarta melalui kolaborasi strategis bersama DLH DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan menjadi fondasi model operasional yang nantinya akan direplikasi. Jaringan 481 Sekolah Adiwiyata di Jakarta berdasarkan data portal SIDIA DLH DKI Jakarta menjadi ekosistem pembuka sebelum program ini diperluas ke berbagai sekolah dan institusi pendidikan lain di seluruh Indonesia.

"Pada saat yang sama, edukasi harus didukung dengan akses yang nyata. Karena itu, EwasteRJ juga membangun infrastruktur pengumpulan melalui dropbox dan layanan pickup untuk institusi pendidikan. Indonesia memiliki lebih dari 434 ribu satuan pendidikan dan lebih dari 53 juta peserta didik,” ungkap Rafa.

“Mimpi besar kami adalah membawa edukasi sekaligus akses pengumpulan e-waste ke institusi-institusi pendidikan di seluruh Indonesia, sehingga sekolah bukan hanya menjadi tempat siswa belajar tentang e-waste, tetapi juga tempat mereka mulai membangun kebiasaan untuk mendaur ulangnya dengan benar," pungkas Rafa dengan optimis. (Henry)

#EwasteRJ #DLHDKIJakarta #DinasPendidikan #SampahElektronik #Ewaste #EdukasiLingkungan #SekolahAdiwiyata

#daur ulang elektronik#dinas pendidikan#dlh dki jakarta#E-Waste School Movement#ewaste#jakarta#kesehatan#pendidikan#sampah elektronik#sampah sekolah
💬Komentar0
DISKUSI BASUDARA

Komentar 0