Bisnis

UFS Future Menu 2026 Angkat Culinary Roots dan Street Food Couture, Jelajahi Kekayaan Kuliner Jawa

Unilever Food Solutions menghadirkan Future Menu 2026 dengan tema Culinary Roots dan Street Food Couture, eksplorasi kuliner Jawa yang menginspirasi kreasi menu masa depan.

Bisnis 2026-10-17 00:03:20 Jakartakita.com 👁 20 dilihat ♥ 0 💬 0

UFS Future Menu 2026 Angkat Culinary Roots dan Street Food Couture, Jelajahi Kekayaan Kuliner Jawa

Unilever Food Solutions menghadirkan Future Menu 2026 dengan tema Culinary Roots dan Street Food Couture, eksplorasi kuliner Jawa yang menginspirasi kreasi menu masa depan.

UFS Future Menu 2026 Angkat Culinary Roots dan Street Food Couture, Jelajahi Kekayaan Kuliner Jawa

Unilever Food Solutions (UFS) kembali menghadirkan inisiatif tahunan “Future Menu 2026” yang mengangkat Culinary Roots dan Street Food Couture sebagai dua tren utama di Indonesia. Tidak berhenti pada prediksi tren, sepanjang Juni-Juli 2026 lalu UFS mengajak 18 Chef terkemuka mengikuti Culinary Trip yang menjelajahi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mengeksplorasi rasa dan cerita di balik kekayaan kuliner Indonesia. Inspirasi dari perjalanan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kreasi Future Menu Collaboration yang dapat dinikmati konsumen di sederetan restoran mitra UFS.

Raditya Beer, Country Lead Marketing UFS Indonesia menerangkan, setiap wilayah di Indonesia memiliki karakter dan cerita kuliner yang berbeda. Namun, menurutnya, belum seluruh cerita tersebut mendapatkan ruang yang sama untuk dikenal masyarakat.

“Setiap region, setiap pulau itu punya cerita yang berbeda. Tapi cerita itu tidak selalu diangkat dengan rata,” ujar Raditya.

Ia mencontohkan Pulau Jawa yang dinilai masih menyimpan banyak kisah kuliner yang belum terlalu dikenal. Karena itu, UFS ingin mendorong agar semakin banyak cerita dari berbagai daerah dapat diketahui masyarakat Indonesia, bahkan berpotensi diperkenalkan hingga ke mancanegara.

Foto: Jakartakita.com/Edi Triyono
Menurut Raditya, upaya tersebut sejalan dengan cita-cita UFS untuk membawa kekayaan kuliner Indonesia ke panggung yang lebih luas.

Selain mengangkat cerita kuliner lokal, UFS juga melihat pentingnya inspirasi yang berasal dari budaya dan tradisi kuliner berbagai negara. Raditya menyebut aspek spiritual dan filosofi yang terkandung dalam tradisi makanan sebagai salah satu sumber inspirasi dalam pengembangan kuliner. “Ini merupakan salah satu fondasi buat kita untuk mencari inspirasi yang lebih tinggi,” katanya.

UFS juga memberikan perhatian pada kebutuhan pelaku usaha kuliner, khususnya mereka yang bergerak di bidang makanan seperti seafood. Berbagai resep dan referensi menu disiapkan untuk membantu pelaku usaha mendapatkan inspirasi dalam mengembangkan produk maupun sajian mereka. Materi resep tersebut dapat diakses melalui situs UFS dan diharapkan bisa menjadi referensi bagi pelaku usaha kuliner dalam menjalankan serta mengembangkan bisnisnya.

Sementara itu, Ade Putri, Culinary Storyteller sekaligus Host Culinary Trip “Future Menu 2026”mengungkapkan, bahwa eksplorasi kuliner dalam perjalanan tidak semata-mata berfokus pada restoran atau tempat makan tertentu. Hal pertama yang menjadi perhatian adalah makanan yang ingin digali ceritanya.

“Bukan titiknya ke satu rumah makan atau warung tertentu, tapi makanannya dulu. Setelah makanannya, baru kita cari tempatnya,” ujar Ade.

Dalam proses tersebut, tim juga harus menyesuaikan pilihan kuliner dengan kondisi masing- masing kota, termasuk waktu operasional tempat makan.

Foto: Foto: Jakartakita.com/Edi Triyono
Ade mengatakan, jadwal perjalanan menjadi salah satu faktor penting. Jika tim hanya berada di sebuah kota pada pukul 09.00 hingga 11.00, misalnya, maka makanan yang dipilih harus disesuaikan dengan waktu tersebut. “Kalau ada makanan yang ingin saya tunjukkan kepada teman-teman, tetapi bukanya malam atau bahkan jam 02.00 pagi, otomatis waktu itu menjadi waktu istirahat kita. Jadi kita skip,” jelasnya.

Menurut Ade, fleksibilitas tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kuliner, terutama ketika eksplorasi dilakukan di kota-kota kecil. Tidak semua tempat makan memiliki kapasitas besar. Karena itu, tim harus melakukan berbagai penyesuaian ketika sebuah lokasi terpilih untuk menjadi bagian dari perjalanan.

Pendekatan tersebut membuat UFS Culinary Trip tidak sekadar menjadi perjalanan mencicipi makanan. Setiap sajian dipilih dengan mempertimbangkan cerita, karakter daerah, waktu, hingga kondisi tempat makan.

Dalam satu perjalanan, tim bahkan dapat menemukan beberapa daerah yang memiliki jenis makanan serupa. Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian dari eksplorasi untuk melihat bagaimana makanan yang sama dapat hadir dengan karakter dan cerita yang berbeda di lokasi berbeda.

Foto: Jakartakita.com/Edi Triyono
Bagi Ade, pendekatan seperti ini penting untuk memperlihatkan bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak berhenti pada nama atau jenis makanannya. Di balik setiap sajian terdapat sejarah, tradisi, kebiasaan masyarakat, serta cerita dari orang-orang yang mempertahankan makanan tersebut.

Melalui UFS Culinary Trip, cerita-cerita tersebut diharapkan dapat semakin dikenal, baik oleh masyarakat Indonesia maupun audiens yang lebih luas di luar negeri. Pada akhirnya, perjalanan kuliner menjadi sebuah upaya untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan keberagaman kuliner Nusantara sekaligus memberikan inspirasi bagi pelaku industri makanan untuk terus mengembangkan kreativitasnya tanpa meninggalkan akar budaya dan cerita dari daerah asalnya.

Chef Freddie Salim dari SILK Bistro bercerita, “Culinary Trip ini telah memberikan perspektif yang lebih fresh tentang kuliner Indonesia dan membuka banyak kemungkinan baru untuk dieksplorasi. Terinspirasi dari sajian rumahan klasik khas Jawa Tengah yang saya temui di perjalanan, SILK Bistro mengembangkan Future Menu Collaboration bertema ‘Homage to Home’, terdiri dari Tahu Telur, Sate Srepeh, Beef Garang Asem, dan Ayam Bakar Kelopo. Kami tetap mempertahankan elemen-elemen ‘wajib’ dari semua hidangan autentik ini, tetapi kemudian menginterpretasikan dan menyajikannya secara lebih modern agar terasa exciting dan relevan bagi konsumen modern.”

Di tengah acara yang memperkenalkan Future Menu Collaboration, hadir pula sejumlah menu kreasi dari restoran mitra UFS lainnya yaitu Sate Kerbau Lilit dan Es Dawet Bango dari restoran Dailah Sajian Kontemporer, Ikan Dasun Tuturuga dari restoran Mata Karanjang, Sate Gurita Serapah dari restoran Umatis, dan Pipi Sapi Sambal Tongkol dari BEER HALL. Selain itu, hidangan Future Menu Collaboration juga tersedia hingga November 2026 di sederetan restoran ternama lainnya yaitu: Serra Serri, GIOI, Akasta, Paras Nusantara, Bumi Aki Signature, TAMU, About All Day, Bakerzin, Brother Chang, Cork & Screw, Esa Restaurant, Kayu Manis, Mitte, Salira, Sate Khas Senayan, Semaja, The Bowery, dan Tide & Table. Dari jejak kuliner lokal ke menu masa kini, konsumen dapat ikut menjadi bagian dari perjalanan “Future Menu 2026” dengan menikmati langsung bagaimana kekayaan inspirasi kuliner Indonesia diterjemahkan menjadi pengalaman baru.

“Melalui ‘Future Menu 2026’, kami ingin mendorong lebih banyak pelaku industri untuk berani mengeksplorasi kekayaan kuliner Indonesia dan menerjemahkannya secara relevan bagi konsumen masa kini. Karena semakin dalam kita memahami akarnya, semakin luas ruang kita untuk berinovasi. Sebagai mitra para Chef, itulah yang ingin terus dilakukan UFS: membantu mengubah akar kuliner Indonesia menjadi inspirasi bagi masa depannya.,” tutup Raditya. (Edi Triyono)

#FutureMenu2026 #KulinerJawa #StreetFoodCouture #CulinaryRoots #UnileverFoodSolutions #KulinerIndonesia

#Bisnis#culinary roots#Future Menu 2026#kuliner#kuliner indonesia#kuliner Jawa#street food couture#Unilever Food Solutions
💬Komentar0
DISKUSI BASUDARA

Komentar 0