Digitalisasi UMKM

Gelang Temali Menjangkau Pasar Maluku Lewat Marketplace

Dinda mengembangkan bisnis gelang handmade Temali sejak 2019 melalui Shopee. Produk buatannya telah terjual ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Maluku, sementara kisah Ika menunjukkan bagaimana marketplace membantu UMKM memperluas pasar.

Digitalisasi UMKM CNN Indonesia Nasional 👁 11 dilihat 0 💬 0

Gelang Temali Menjangkau Pasar Maluku Lewat Marketplace

Dinda mengembangkan bisnis gelang handmade Temali sejak 2019 melalui Shopee. Produk buatannya telah terjual ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk Maluku, sementara kisah Ika menunjukkan bagaimana marketplace membantu UMKM memperluas pasar.

Gelang Temali Menjangkau Pasar Maluku Lewat Marketplace

Dinda, 25, merintis bisnis gelang handmade Temali dari hobi mengoleksi gelang. Ia mempelajari teknik pembuatan dan pengembangan material secara otodidak melalui Pinterest dan YouTube, lalu mulai menjual produknya di Shopee sejak berusia 18 tahun atau sekitar 2019.

Gelang Temali terinspirasi dari gelang Bali yang menggunakan tali atau benang serta beragam pernak-pernik. Produk tersebut dijual dengan harga Rp45.000 hingga Rp155.000 dan dibuat secara manual, antara lain dengan teknik hand stitching serta braided bracelet.

Menurut Dinda, produk Temali telah terjual ke Pulau Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. Untuk memperkuat pengalaman pelanggan, ia juga mengikuti bazar pop-up market agar calon pembeli dapat melihat dan mencoba produknya secara langsung.

Dalam penjualan daring, Dinda memperhatikan kualitas foto dan video, deskripsi bahan, serta ukuran produk. Ia juga menerapkan sistem pre-order agar jumlah produksi sesuai permintaan dan menambah tenaga freelance ketika pesanan meningkat.

Kisah lain datang dari Ika Safitri dan suaminya, Harun, yang mengembangkan usaha cireng isi setelah Harun terkena PHK. Berawal dari modal Rp2 juta dan penjualan di depan sekolah di Depok, usaha bernama Cireng Asik itu kemudian berkembang melalui Shopee.

Ika menyebut omzet daring Cireng Asik kini sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari, lebih besar daripada penjualan di kantin sekolah. Produk cireng dikirim ke Sumatera Selatan, Lampung, Pulau Jawa, dan Bali; sementara Temali menjadi contoh produk kerajinan yang telah menjangkau konsumen di Maluku.

CNN Indonesia melaporkan bahwa digitalisasi memberi peluang bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas, meski peningkatan omzet belum tentu diikuti kenaikan margin. Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pelaku UMKM juga membutuhkan dukungan dalam manajemen stok, margin, merek, standardisasi produk, pembiayaan, dan akses pasar. Sumber: CNN Indonesia Nasional.

#cireng#digitalisasi#jajanan tradisional#Maluku#marketplace#produk handmade#Shopee#UMKM#usaha kecil#wirausaha
💬Komentar0
DISKUSI BASUDARA

Komentar 0