Mengenal Sorong Selatan di provinsi Papua Barat Daya ternyata tidak harus terbang ke Papua. Pengalaman itu bisa dirasakan dalam Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua, program yang diinisiasi oleh Konservasi Indonesia bersama National Geographic Indonesia dan Legenda Khatulistiwa, yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta.
Melalui pameran foto, dialog, pertunjukan budaya, dan gastronomi, program ini membawa cerita dari tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan—Klaogin, Konda, dan Bariat—lebih dekat kepada masyarakat Jakarta.
Bagi Konservasi Indonesia, memperkenalkan Sorong Selatan berarti membuka ruang bagi masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam untuk menceritakan wilayahnya dari sudut pandang mereka sendiri.
“Ekowisata yang kami dorong berangkat dari masyarakat sebagai pemilik pengetahuan sekaligus penjaga utama hutannya. Penting bagi publik untuk mengenal Sorong Selatan bukan hanya dari alamnya, tetapi juga dari masyarakat yang hidup dan menjaga ruang tersebut,” kata Meizani Irmadhiany, Senior Vice President and Executive Chair, Konservasi Indonesia di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Cerita tersebut kemudian hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan pengunjung. Dua mama dari Sorong Selatan, Lidia Sawor dan Orpa Sawen, memperlihatkan langsung bagaimana sagu diolah menjadi papeda. Bagi masyarakat Papua, sagu bukan sekadar bahan makanan, tetapi bagian dari keseharian dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Foto: Prefinite Communications
Bagi Legenda Khatulistiwa, pengalaman seperti ini menjadi cara untuk memperkenalkan sebuah tempat sebelum seseorang benar-benar datang ke sana.
“Kami ingin orang mengenal Sorong Selatan bukan hanya tentang keindahan alamnya, tetapi juga dari masyarakat dan cerita di baliknya. Ketika suatu hari mereka datang, mereka datang bukan sekadar sebagai wisatawan, tetapi sebagai tamu yang memahami dan menghormati tempat yang mereka kunjungi,” ujar Narendra Makes, CEO Legenda Khatulistiwa dalam kesempatan yang sama.
Legenda Khatulistiwa merupakan jaringan ekowisata Indonesia yang diinisiasi dan dikurasi oleh Plataran Indonesia. Sejak diperkenalkan pada 17 Agustus 2022, Legenda Khatulistiwa menghubungkan pejalan, komunitas, penyedia pengalaman, dan organisasi yang memiliki kepedulian terhadap alam Indonesia.
Dengan tiga pilar Nature, Culture, dan Community, Legenda Khatulistiwa menghadirkan cerita tentang berbagai destinasi dan taman nasional, kegiatan komunitas, hingga Ekspedisi Legenda Khatulistiwa—perjalanan kelompok kecil yang memadukan penjelajahan alam, perjumpaan budaya, dan kegiatan konservasi.
Melalui semangat “Ekspedisi Kita, Ekspedisi Semua”, perjalanan dipandang bukan hanya sebagai kesempatan untuk melihat tempat baru, tetapi juga untuk memahami bagaimana tempat tersebut dijaga.
Foto: Jakartakita.com/Henry
Semangat ini menjadi bagian penting dalam memperkenalkan tiga kampung di Sorong Selatan yang tengah merintis ekowisata berbasis masyarakat. Di Hutan Kota by Plataran, pengunjung bisa melihat kehidupan masyarakat melalui pameran foto, menyaksikan pertunjukan budaya, mengikuti dialog mengenai masa depan Sorong Selatan, hingga bertemu langsung dengan masyarakat yang memperkenalkan pangan lokal.
Bahan-bahan kuliner lokal Sorong Selatan diperoleh dari lingkungan sekitar dan diolah menjadi makanan yang erat dengan keseharian warga. Salah satunya adalah Papeda, makanan pokok berbahan sagu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hidangan ini biasanya disajikan bersama kuah kuning berbahan ikan dan termasuk kuliner yang menjadi bagian dari tradisi makan masyarakat setempat.
Cara sebuah tempat diperkenalkan juga menjadi perhatian National Geographic Indonesia sebagai mitra editorial dalam program ini.
“Kami ingin mengajak orang datang sebagai pejalan yang mau memahami, bukan sekadar melihat. Kekaguman itu awal yang baik, tapi tidak cukup,. Sejatinya, sebuah destinasi yang baik adalah ketika kita yang sudah berkunjung dan pulang, ada perasaan seperti kita harus ikut menjaga," terang Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia.
Bagi Legenda Khatulistiwa, mengenalkan sebuah destinasi juga berarti memperkenalkan bagaimana seharusnya perjalanan dilakukan.
Foto: Jakartakita.com/Henry
Hutan di Sorong Selatan bukan hanya lanskap yang indah, tetapi juga ruang hidup masyarakat. Karena itu, pengembangan ekowisata perlu berjalan bersama dengan pengetahuan lokal, aturan kampung, serta batas yang ditentukan oleh masyarakat dan kondisi alam.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan dalam sesi dialog “Masa Depan Keanekaragaman Hayati Sorong Selatan”, yang menghadirkan perwakilan Konservasi Indonesia, pemerintah daerah, serta kepala kampung Klaogin dan Bariat.
“Kami senang kalau tamu datang. Kami hanya minta satu hal: datanglah seperti orang yang bertamu ke rumah saudara. Ikuti aturan kampung, hormati tempat yang kami jaga,” harap Martinus Sawen, Kepala Kampung Klaogin.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Legenda Khatulistiwa bahwa pengalaman perjalanan yang baik tidak selalu berarti melakukan lebih banyak, tetapi memahami kapan harus berhenti dan apa yang perlu dihormati.
Rangkaian “Jelajah Kemolekan Sorong Selatan” masih berlangsung hingga 4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran. Dari Senayan, cerita tentang Sorong Selatan diharapkan dapat melanjutkan perjalanannya—dari satu orang ke orang lain, dan pada waktunya, dari Jakarta menuju tempat asal cerita itu sendiri.
Perjalanan yang baik mungkin dimulai jauh sebelum kita tiba di sebuah destinasi—ketika kita mulai mengenal dan memahami tempat yang akan kita kunjungi. (Henry)
#ekowisata #SorongSelatan #LegendaKhatulistiwa #budayaPapua #gastronomi #KonservasiIndonesia #TravelJakarta


Reacties 0
Log in met Google of Facebook om te liken, op te slaan en te reageren.