Bisnis

Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Butuh Manajemen Reputasi dan Market Intelligence

Kebutuhan perusahaan terhadap konsultan PR semakin strategis. Studi APPRI menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap manajemen reputasi, market intelligence, dan pengukuran dampak.

Bisnis 2026-09-13 20:01:25 Jakartakita.com 👁 22 dilihat 0 💬 0

Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Butuh Manajemen Reputasi dan Market Intelligence

Kebutuhan perusahaan terhadap konsultan PR semakin strategis. Studi APPRI menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap manajemen reputasi, market intelligence, dan pengukuran dampak.

Peran Konsultan PR Makin Strategis, Klien Butuh Manajemen Reputasi dan Market Intelligence

Peran konsultan public relations (PR) semakin bergeser dari sekadar eksekusi komunikasi menuju fungsi strategis yang terukur. Studi Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menunjukkan hampir 100 persen perusahaan responden membutuhkan manajemen reputasi, sementara sekitar 75 persen membutuhkan market intelligence.

Studi bertajuk “Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme terhadap Industri PR di Tahun 2026” tersebut melibatkan 24 perusahaan dari 19 sektor. Selain manajemen reputasi dan market intelligence, sekitar 60 persen responden membutuhkan integrated marketing communication dan 35 persen membutuhkan dukungan advokasi.

Temuan ini menunjukkan ekspektasi terhadap konsultan PR semakin luas, mencakup pengelolaan reputasi, stakeholder, isu dan krisis, intelligence, hingga kontribusi yang lebih konkret terhadap organisasi. Bahkan, 25 persen responden menyebut Return on Investment (ROI) sebagai dampak akhir yang diharapkan dari aktivitas komunikasi dan PR.

Namun, praktik pengukuran komunikasi masih menjadi tantangan. Baru 36 persen responden melakukan pengukuran secara berkala. Sebanyak 32 persen melakukan pengukuran hanya ketika proyek atau kampanye berlangsung, sedangkan 32 persen lainnya belum mengukur keberhasilan komunikasi.

Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlunya industri bergerak dari pengukuran output menuju outcome dan impact.

“Pengguna jasa konsultan PR menuntut pencapaian lebih jauh dari hanya sekadar output. Studi APPRI menyebutkan bahwa 25 persen pengguna jasa menginginkan Return on Investment sebagai bagian dari indikator keberhasilan kerja PR,” ujar Sari.

APPRI juga berencana memperkuat panduan pengukuran keberhasilan PR dengan mengacu pada kerangka Association for Measurement and Evaluation of Communication (AMEC). Langkah tersebut dinilai penting seiring tuntutan agar PR semakin inovatif, terintegrasi, dan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.

Model tersebut mempertemukan konsultan senior PR dengan kemampuan media planning and buying, digital marketing, KOL dan creator strategy, creative development, analytics, serta technology-driven business transformation.

Foto: Prologue

CEO Prologue Indonesia, Dody Siregar, menilai integrasi komunikasi bukan sekadar menggabungkan berbagai layanan dalam satu perusahaan, tetapi memastikan seluruh aktivitas berangkat dari pemahaman yang sama mengenai bisnis, stakeholder, dan risiko.

“Persoalannya bukan apakah perusahaan harus memilih PR atau digital, earned media atau paid media, tapi apakah riset, reputasi, kreativitas, distribusi, dan evaluasi dibangun berdasarkan satu pemahaman mengenai bisnis, stakeholder, dan risiko,” kata Dody.

Menurutnya, integrasi juga harus tetap menjaga batas antara fungsi editorial dan komersial, termasuk independensi pemberitaan, transparansi konten berbayar, serta kejelasan hubungan dengan kreator.

Sementara itu, perkembangan artificial intelligence (AI) turut mengubah cara kerja industri komunikasi. Teknologi mulai dimanfaatkan untuk membantu riset, monitoring, pemetaan percakapan, analisis data, hingga membangun early warning system terhadap isu dan risiko reputasi.

Prologue mengembangkan pendekatan “Human Wisdom + AI Intelligence”, dengan AI digunakan untuk memperluas kemampuan manusia dalam mengolah informasi dan menemukan pola, sementara interpretasi konteks, stakeholder, risiko, etika, dan pengambilan keputusan tetap berada pada manusia.

Perubahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya belanja iklan digital. We Are Social memperkirakan total belanja iklan Indonesia pada 2025 mencapai US$6,97 miliar, naik 5,3 persen secara tahunan. Sekitar 52 persen atau US$3,64 miliar dialokasikan ke kanal digital. Belanja iklan media sosial tumbuh 11,3 persen, sedangkan influencer marketing meningkat 14,4 persen.

Di sisi industri, optimisme terhadap prospek PR juga cukup tinggi. Studi APPRI mencatat 52 persen responden sangat optimistis dan 36 persen optimistis terhadap pertumbuhan sektor PR dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Faktor pendorongnya antara lain meningkatnya kebutuhan manajemen reputasi, kompleksitas isu dan krisis, perkembangan teknologi dan data, serta tuntutan regulasi dan akuntabilitas.

Meski demikian, optimisme tersebut perlu diikuti peningkatan kapasitas konsultan, terutama dalam teknologi, data, strategic advisory, inovasi, serta pengukuran dampak.

Praktisi PR sekaligus PR Director Prologue, Adam Rinaldi, mengatakan pengalaman tetap menjadi fondasi dalam PR strategis, tetapi harus terus diperbarui dengan kompetensi dan pendekatan baru.

“Pengalaman harus diuji kembali, dilengkapi data, dan dipertemukan dengan kompetensi baru,” ujar Adam.

Dengan perubahan kebutuhan klien dan lanskap komunikasi yang semakin kompleks, industri PR dituntut tidak hanya menghasilkan publikasi atau eksposur, tetapi mampu menunjukkan kontribusi terhadap reputasi, kepercayaan, dan tujuan bisnis organisasi. (Henry)

#ai#APPRI#Bisnis#Gaya Hidup#Konsultan PR#Manajemen Reputasi#Market Intelligence#Prologue#Public Relations#Strategic Communication
💬Komentar0
DISKUSI BASUDARA

Komentar 0