Batam dinilai memiliki peluang berkembang menjadi salah satu pusat investasi dan ekonomi baru di Asia dengan memanfaatkan posisi strategisnya yang berdekatan dengan Singapura, berada di jalur pelayaran internasional, serta memiliki berbagai fasilitas investasi.
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini mengatakan Indonesia perlu memperkuat investasi dan ekspor yang berorientasi pada pasar global, terutama di tengah kondisi daya beli masyarakat yang melemah.
Menurut Didik, pengalaman Vietnam menunjukkan pentingnya kebijakan ekonomi yang lebih terbuka terhadap investasi dan pasar global. Ia menilai pendekatan serupa dapat menjadi salah satu referensi bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Indonesia tidak akan pernah mencapai tingkat pertumbuhan 7–8 persen seperti dijanjikan jika menghindari kebijakan investasi dan ekspor yang berorientasi ke luar. Kuncinya sederhana, tiru Vietnam saja,” ujar Didik.
Ia juga melihat perubahan dinamika geopolitik global dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi baru. Diversifikasi geografis investor, menurutnya, menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan kawasan seperti Batam.
Batam dinilai memiliki sejumlah keunggulan karena berdekatan dengan Singapura dan berada di jalur perdagangan internasional. Didik bahkan menyebut Batam berpotensi dikembangkan sebagai “Dubai Kecil” di Sumatera.
“Dengan penduduk lebih dari 2 juta, Batam bisa direncanakan untuk menjadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera,” katanya.
Investasi Digital Jadi Katalis
Didik menyebut nilai investasi di Batam pada 2025 mencapai Rp69,3 triliun, dengan sektor digital sekitar Rp8,56 triliun. Kawasan Batam-Bintan-Karimun juga didorong menjadi hub industri hijau yang berkaitan dengan kerja sama listrik bersih Indonesia-Singapura.
Ia turut menyoroti rencana investasi Nvidia di Batam yang disebut mencapai sekitar US$4,5 miliar atau Rp80,55 triliun untuk pengembangan infrastruktur pusat data kecerdasan buatan.
Rencana Nvidia DSX AI Factory di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam tersebut disebut melibatkan Firmus Technologies dari Australia dan Day One dari Singapura, dengan target operasi bertahap mulai 2027 hingga 2028.
Didik menilai masuknya investasi teknologi tinggi dapat menjadi katalis bagi investasi lanjutan di Batam, sekaligus melengkapi kebijakan hilirisasi sumber daya alam.
Namun, ia menekankan peluang tersebut perlu ditopang kepastian hukum, regulasi yang baik, serta iklim bisnis yang sehat. Menurutnya, fasilitas Free Trade Zone (FTZ) dan insentif di kawasan ekonomi menjadi modal yang dapat diperkuat untuk menarik lebih banyak investor global. (Risma)




Komentar 0
Login dengan Google atau Facebook untuk menyukai, menyimpan, dan memberi komentar.